Diklat

Menyambut  New Normal Pandemic Covid 19

Sulit merubah perilaku? Kenali teknik nya

Oleh

Ahmad Hasyim Wibisono

  • Malang 1 Juli 1986
  • Dosen Jurusan Keperawatan Universitas Brawijaya
  • Owner rumah perawatan luka Pedis Care Malang

 

Histori singkat covid

Covid 19 pertama kali terdeteksi sebagai pneumonia dengan sebab yang belum bisa diidentifikasi di Wuhan, China pada bulan Desember 2019. Coronavirus adalah zoonosis atau virus yang ditularkan antara hewan dan manusia. Virus ini menyebar begitu cepat sehingga hanya dalam waktu satu bulan, tepatnya tanggal 30 Januari 2020 WHO sudah menyatakan covid 19 sebagai pandemi internasional – global pandemic. Di Indonesia kasus positif covid 19 pertama kali teridentifikasi tanggal 2 Maret 2020 dan semenjak itu telah menyebar dengan sangat cepat. Kurang dari satu bulan, yakni pada tanggal 25 Maret 2020, Indonesia melaporkan 790 kasus konfirmasi COVID-19 dari 24 Provinsi.

Per 4 Juni 2020, data yang dihimpun oleh gugus tugas penanganan Covid 19 nasional mencatat sebanyak 28.233 kasus positif dengan 8.406 pasien sembuh dan 1.698 pasien meninggal. Dari sini dapat dilihat betapa cepatnya pertambahan jumlah pasien dan wilayah terdampak mulai dari 2 Maret 2020 hingga 4 Juni 2020 (hanya dalam waktu kurang dari 4 bulan). Di Kota dan Kabupaten Malang sendiri trend penambahan kasus pasien positif covid 19 masih belum menunjukkan penurunan, bahkan setelah PSBB dijalankan angka penambahan kasus positif justeru menunjukkan kenaikan. Di wilayah kota malang, misalnya sebelum PSBB (14 Mei 2020) jumlah pasien terkonfirmasi positif adalah sebanyak 25 orang (15 dirawat, 10 sembuh). Sedangkan pasca PSBB (3 Juni 2020) jumlah pasien terkonfirmasi positif covid 19 meningkat menjadi 50 orang dengan rincian 21 orang sembuh, 30 orang dirawat, dan 2 orang meninggal.

Imbas covid 19

Diterapkannya seseorang sebagai penderita, maupun berbagai pembatasan untuk mencegah penyebaran covid 19 (physical distancing dan PSBB) tak bisa dipungkiri menimbulkan berbagai imbas pada masyarakat. Dampak paling nyata Nampak pada berkurangnya penghasilan (dapat disebabkan karena kehilangan pekerjaan, atau penurunan omzet), selain itu pada pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit mau tidak mau akan kehilangan pekerjaan (sementara maupun permanen) dan peningkatan biaya operasional selama dirawat, bisa jadi keluarga yang menunggu pun menjadi tidak produktif secara ekonomi. Pembatasan interaksi social juga dirasakan sebagai satu stress tersendiri bagi banyak orang. Tak hanya itu, bagi tenaga kesehatan pun pandemi ini merupakan beban yang luar biasa, dimana banyak korban jiwa berjatuhan dan pengasingan tenaga kesehatan oleh tetangga sekitar.

Menyikapi Covid 19 sebagai kondisi epidemis

Keberhasilan pengendalian covid 19 sebagai penyakit yang menular dan berjangkit di masyarakat, sangat bergantung pada pola perilaku dan kebiasaan masyarakat itu sendiri. Sehingga peran paling krusial sejatinya adalah ada di pundak masyarakat dalam mengendalikan penyebarannya. Karena jika penyebaran berhasil dikontrol, otomatis jumlah kasus positif akan berkurang dan beban rumah sakit akan berkurang. Sayangnya, bagi sebagian besar masyarakat kita,merubah perilaku bukanlah hal yang mudah.

Terlepas dari berbagai faktor eksternal yang berkaitan dengan perubahan perilaku (missal: kurangnya sosialisasi, informasi yang simpang siur, banyaknya hoax, dan lain lain), secara internal memang manusiawi jika merubah perilaku adalah hal yang berat. Dalam artikel ini penulis akan mengulas bagaimana sejatinya perubahan perilaku itu dapat dilalui  dan dicapai oleh seseorang. Dengan meresapi penjelasan dalam artikel ini pembaca diharapkan dapat melihat secara lebih ke dalam dirinya sendiri dan dapat menentukan sikap dalam berperilaku di tengah pandemic covid 19 dan kondisi PSBB/ new normal yang sedang diberlakukan.

Teori perubahan perilaku

Sejatinya ada banyak sekali teori ilmiah yang berkaitan dengan perubahan perilaku. Salah satu yang banyak dirujuk dalam ranah kesehatan adalah Health Belief Model (HBM). Dalam teori ini perubahan perilaku dapat terjadi (atau tidak) antara lain tergantung pada 4 persepsi internal seseorang:

  1. Persepsi terhadap kerentanan yang dialami. Orang akan cenderung terdorong untuk berubah jika merasa rentan terdampak dari penyakit yang berjangkit. Dalam kaitannya dengan covid 19, jelas SEMUA ORANG AKAN RENTAN TERDAMPAK COVID 19 karena dampak covid tidak hanya segi kesehatan, tapi juga ekonomi, spiritual, dan social. Jadi selain dampak tertular, dampak covid juga berat pada sisi keuangan dan social. Hal inilah yang perlu dipahami oleh masyarakat. Semakin ceroboh masyarakat, maka resiko tertular positif covid 19 akan Sebagai rentetannya, dengan semakin banyaknya kasus positif covid maka orang akan cenderung protektif dan minim keluar rumah, akibatnya perputaran ekonomi akan menurun (sebagaimana terjadi sekarang). Hal ini berpotensi terjadi berkepanjangan dan berlarut larut jika angka positif covid tidak kunjung terjadi penurunan. Bahkan bukan tidak mungkin PSBB akan kembali diterapkan.
  2. Persepsi terhadap keparahan yang mungkin terjadi. Semakin orang sadar bahwa suatu penyakit dapat berakibat fatal, maka perubahan perilaku akan lebih cepat tercapai, demikian pula sebaliknya. Infeksi oleh Covid 19 yang menyerang sistem pernafasan telah diketahui menimbulkan lebih dari 1600 kematian di Indonesia hanya dalam waktu kurang dari 4 bulan. Dan pasien seringkali meninggal hanya dalam hitungan hari setelah terdiagnosa atau setelah dirawat di RS. Hilangnya nyawa 1 orang anggota keluarga, akan sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan (jasmani dan rohani), serta kelangsungan hidup anggota keluarga yang lain, terlebih lagi jika yang meninggal adalah tulang punggung ekonomi dan salah satu (atau kedua) orang tua. Beratnya dampak covid tidak hanya dirasakan oleh pasien dan keluarganya, akan tetapi juga siapapun yang memiliki riwayat kontak dengan pasien selama masa wabah ini. Sikap ceroboh berarti mempertaruhkan kelangsungan dan kehidupan keluarga, pendidikan anak anak, dan masyarakat luas.
  3. Persepsi terhadap manfaat yang diperoleh. Banyak orang gagal mencapai perubahan perilaku sehat karena merasa upaya yang dilakukan tidak akan membawa hasil seperti yang diharapkan. Apalagi di tengah masa wabah seperti saat ini, begitu banyak pelanggaran perilaku kewaspadaan yang dilakukan di berbagai tempat. Nah pemikiran inilah yang perlu dirubah. Dengan konsisten menerapkan perilaku waspada covid pada diri sendiri (dan orang terdekat/ keluarga), maka akan membentuk lingkaran pelindung bagi diri sendiri dan keluarga, meskipun di luar masih banyak pelanggaran yang terjadi. Semakin banyak orang yang BERFOKUS PADA PERILAKU KEWASPADAAN DIRI SENDIRI DAN KELUARGA, maka akan terbentuk pola perilaku masyarakat yang lebih baik sehingga efek baiknya mulai terasa pada lingkup sendi kehidupan yang lebih luas. Bukan tidak mungkin sikap waspada dan konsisten satu keluarga akan ditiru/ diikuti oleh anggota keluarga yang lain.
  4. Persepsi terhadap rintangan yang dihadapi. Semakin mudah rintangan dipersepsikan, maka perubahan perilaku akan lebih mudah terjadi. Nah disinilah masyarakat kita seringkali kesulitan. Mengapa? Karena yang dijadikan tolok ukur adalah kebiasaan orang orang sekitar. Apabila lingkungan sekitar bersikap acuh, maka perubahan perilaku diri sendiri akan terasa berat. Oleh karenanya agar beban membentuk perilaku ini terasa lebih ringan, akan lebih nyaman jika dijadikan kesepakatan bersama dalam satu keluarga. Seluruh anggota keluarga yang tinggal serumah sepakat untuk saling menjaga, mengingatkan, dan mendukung untuk menerapkan perilaku pencegahan covid 19. Dengan merubah perilaku akan terasa lebih ringan karena dengan tujuan yang jelas: melindungi diri sendiri dan keluarga, serta lebih ringan karena dilakukan bersama sama orang terdekat.

 

Nah dari rincian di atas maka jelas sangat penting bagi kita untuk menilai diri sendiri, menilai persepsi kita apakah sudah tepat terhadap wabah yang berjangkit saat ini. Pahamilah bahwa perilaku kita dan keluarga dapat menjadi penentu keberlangsungan keluarga sendiri, maupun masyarakat. Kita tentu tidak mengharapkan jumlah penderita covid 19 terus naik dan pemerintah terpaksa menetapkan PSBB kembali. Apakah kondisi ini akan dibiarkan berlarut larut dan masalah terus terjadi berulang ulang? Bagaimana dengan penghasilan keluarga, bagaimana dengan pendidikan anak anak? Maka dari itu kuncinya cukup sederhana: luruskan pemahaman terhadap 4 persepsi di atas, dan terapkan bersama anggota keluarga. Mulai dari lingkup yang kecil, diri sendiri dan keluarga. Jalankan perilaku kewaspadaan secara konsisten, maka kita akan tetap dapat berpenghasilan, beribadah berjamaah, dan siap menjalani hidup NEW NORMAL.

Tentang penulis:

Ns. Ahmad Hasyim W, M.Kep, MNg

  • Malang 1 Juli 1986
  • Dosen Jurusan Keperawatan Universitas Brawijaya
  • Owner rumah perawatan luka Pedis Care Malang
  • Trainer nasional pelatihan perawatan luka

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *