Diklat

SOLUSI LUKA ANDA

Agar masalah luka diabetes tidak berkepanjangan

Hingga saat ini diperkirakan seperempat penderita diabetes akan mengalami luka setidaknya sekali dalam hidupnya. Penulis sebagai praktisi perawatan luka seringkali menjumpai, pasien pasien yang telah sembuh dari luka, mengalami luka berulang. Lebih dari 25% pasien yang telah dirawat di Pedis Care Malang dan sembuh, mengalami luka berulang dalam jangka waktu 1-2 tahun pasca sembuh.

Kondisi lain yang seringkali dijumpai adalah, luka dibawa ke tenaga kesehatan sudah dalam kondisi yang berat dan ukuran luka sudah melebar. Hal ini dikarenakan oleh beberapa hal: (1) Banyak pasien menganggap luka diabetes sama dengan luka biasa yang lain, sehingga tidak diberikan penananganan khusus. Padahal, luka diabetes memiliki berbagai keunikan yang menjadikannya tidak sama dengan luka biasa dan memerlukan penanganan khusus oleh tenaga ahli (baca artikel penulis pada koran ini edisi sabtu 16 Maret 2019). (2) Gangguan system saraf di kaki yang menimbulkan hilangnya rasa nyeri seringkali menjadikan luka ini tidak terdeteksi sejak dini dan dianggap tidak penting. Banyak pasien baru menyadari bahwa kakinya ada luka yang perlu diperhatikan setelah timbulnya infeksi yang ditandai dengan bau dan cairan luka berwarna keruh (nanah).

Hingga saat ini di seluruh dunia tercatat kejadian amputasi kaki diabetes adalah 1 kali setiap 20 detik.

Satu hal yang ingin penulis tekankan adalah dalam dunia medis tidak dikenal adanya diabetes basah dan kering. Semua pasien dengan diabetes memiliki kerentanan khusus terhadap luka sehingga harus memberikan perhatian ekstra akan hal ini.

Kenapa luka diabetes sulit sembuh?

Kadar gula darah yang tinggi ditambah dengan frekuensi buang air kecil yang meningkat pada penyandang diabetes menjadikan darah menjadi lebih pekat/kental. Kondisi ini akan mempengaruhi sirkulasi darah di kaki sehingga penyembuhan luka menjadi terhambat. Selain itu, gula darah yang tinggi dalam waktu lama akan mengakibatkan terjadinya kerusakan pembuluh darah kecil pada kaki. Hal ini akan menghambat suplai oksigen dan nutrisi ke luka sehingga luka menjadi sulit sembuh. Ditambah lagi, obat yang dikonsumsi pasien pun tidak dapat sampai ke luka secara maksimal karena adanya kerusakan pembuluh darah ini. Nah, pekatnya darah serta gangguan pembuluh darah ini menjadikan infeksi bakteri pada luka menjadi sukar tertangani dengan cara yang biasa.

Masyarakat juga perlu faham bahwa beberapa produk perawatan luka yang banyak dipakai sebenarnya mengandung efek iritasi pada luka. Pada pasien non diabetes, kondisi ini tidak menjadi masalah karena tubuh masih bisa mengkompensasi efek iritasi tersebut. Tapi pada penyandang diabetes, efek iritasi tersebut justru menjadi penghambat penyembuhan luka yang signifikan. Contoh bahan yang bersifat iritan adalah antiseptic dengan konsentrasi iodin diatas 1%, Ethacridine lactate (rivanol), dan hydrogen peroksida (perhidrol). Sedangkan bahan bahan yang terbukti aman dan tidak bersifat iritatif adalah silver, octenidin, dan poliheksanide (PHMB). Disarankan penyandang diabetes selalu sedia bahan bahan ini dirumah sebagai pertolongan pertama jika terjadi luka.

Peran penting Pasien dan keluarga dalam deteksi dini luka

Diabetes mellitus termasuk dalam kategori penyakit yang memerlukan perawatan jangka panjang. Dalam konteks ini, keluarga dan pasien memiliki peranan penting dalam melakukan manajemen diri (self-management) penyakitnya secara mandiri. Selain untuk mengatur kadar gula, manajemen diri yang baik akan membantu pasien untuk menerapkan pola hidup sehat sehingga tercapai hidup sehat dan bahagia, mencegah peningkatan biaya perawatan akibat kekambuhan, serta yang tak kalah penting adalah terhindar dari komplikasi. Nah, budaya manajemen diri (self-management) ini nampaknya masih belum begitu dikenal di Indonesia. Kebanyakan pasien dengan penyakit kronis masih terlalu mengandalkan obat dan bantuan dari tenaga kesehatan, dibanding mengatur sendiri pola hidup dan kebiasaannya. Padahal, dengan mengatur pola hidup dan kebiasaan (kebiasaan makan, aktivitas fisik, pola tidur, dll) pasien akan terhindar dari kekambuhan dan menurunkan kemungkinan rawat inap di rumah sakit. Penulis akan membahas tentang manajemen diri ini pada kesempatan yang lain.

Jika luka sudah terjadi

Spesifik untuk luka diabetes, ada 3 poin penting dalam manajemen diri yang harus diperhatikan dan dilakukan dengan baik. Pertama, sangat disarankan adalah dengan melakukan pemeriksaan dan perawatan kaki secara rutin dan mandiri. Jangan abaikan adanya luka sekecil apapun, meskipun hanya berupa lecet, atau goresan. Bagian bagian yang sering luka biasanya adalah sela ibu jari kaki, ruas jari, pangkal ibu jari kaki, dan mata kaki. Selain itu, perhatikan juga adanya kapalan pada kaki, jika ada kapalan, segera lembabkan dan tipiskan dengan alat yang dijual di toko alat salon. Kedua, Penting bagi pasien dan keluarga, jika ada luka segera bersihkan dengan antiseptic yang disarankan, lalu tutup rapat dengan kassa dan plester. Tindakan ini dapat dilakukan 2-3 kali dalam sehari. Antiseptic digunakan untuk membersihkan luka dari kuman, sementara penutupan luka ditujukan supaya kuman tidak masuk ke luka. Hindari bahan antiseptik yang bersifat iritan. Jangan membiarkan luka terbuka karena hal ini akan meningkatkan resiko infeksi. Ketiga, amati terus perkembangan luka. Jika tidak ada perbaikan/ justeru memburuk sampai hari ke 5 maka anda harus segera memeriksakan kaki anda ke tenaga kesehatan yang berkompeten melakukan perawatan luka. Dikarenakan luka diabetes memiliki mekanisme yang kompleks, maka penggunaan metode konvensional (mengandalkan kassa atau semacamnya) seringkali memberikan hasil yang tidak memuaskan, jika luka sudah berumur lebih dari 5 hari. Usahakan mencari fasilitas pelayanan kesehatan yang menggunakan teknik perawatan luka modern.

Kunci penyembuhan luka

Perlu diketahui oleh semua (pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan) beberapa “persyaratan” yang harus dipenuhi agar luka kronis bisa sembuh dengan memuaskan. Pertama, infeksi pada luka harus dikontrol dengan baik. Maka perlu digunakan antiseptic untuk mencuci luka, dan digunakan balutan luka yang bersifat antibakteri untuk menutupnya. Kedua, jaringan mati harus dibersihkan semaksimal mungkin (hanya bisa dilakukan oleh tenaga yang terlatih). Adanya jaringan mati ini akan memperpanjang proses peradangan pada luka, akibatnya luka terus melebar. Pada luka diabetes, jaringan mati seringkali nampak berwarna hitam, kuning, atau kehijauan.  Ketiga, penyebab terjadinya luka harus dikontrol. Dalam hal ini penyebab luka adalah gula darah yang tinggi, maka harus dikontrol dengan baik supaya penyembuhan luka maksimal. Pengalaman penulis ketika merawat pasien dengan gula darah tinggi, luka tetap bisa sembuh dengan menggunakan teknik perawatan luka modern, hanya saja waktu penyembuhannya sedikit memanjang jika dibandingkan pasien dengan gula darah yang terkontrol di bawah 180 mg/dl. Oleh karenanya disarankan, upayakan sebisa mungkin kadar gula darah terkontrol. Keempat, kelembaban luka yang optimal. Ini merupakan paradigm yang belum banyak dikenal di Indonesia. Penulis maklum bahwa masih banyak yang berpendapat bahwa agar luka bisa sembuh harus dibiarkan dalam kondisi kering. Ini merupakan konsep yang salah kaprah akan tetapi sudah terlanjur turun temurun. Padahal, di luar negeri telah diidentifikasi bahwa luka agar sembuh optimal harus dijaga supaya dalam kondisi lembab. Teknik menjaga kelembaban luka ini bisa diterapkan denga teknik perawatan luka modern oleh tenaga yang telah tersertifikasi. Terakhir kelima, agar luka kronis dapat sembuh pasien harus memperbaiki kondisi umum tubuhnya. Hal ini dapat dicapai dengan meningkatkan status gizi, mengatasi anemia, serta memperbaiki sirkulasi darah. Perbaikan gizi dapat dicapai dengan mengonsumsi sumber sumber protein seperti ikan laut, putih telur, daging dan ayam tanpa lemak. Makanan tinggi serat jgua sangat baik untuk kesehatan tubuh.

Tercapainya kelima poin di atas merupakan hasil kerjasama yang baik antara pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan.

Perawatan luka modern

Sejak awal penulis banyak menyinggung tentang perawatan luka modern. Apakah sesungguhnya perawatan luka modern itu? Yang dimaksud adalah teknik perawatan luka menggunakan jenis balutan luka modern atau modern wound dressing.  Jenis balutan luka ini sangatlah khusus dan terdiri dari banyak macam, dimana setiap jenisnya memiliki indikasi dan kontraindikasi masing masing. Dengan kata lain, balutan luka modern memiliki fungsi yang sangat spesifik dan tidak bisa sembarangan dalam menggunakannya. Saat ini bagi tenaga kesehatan telah tersedia pelatihan khusus perawatan luka modern yang terakreditasi kementerian kesehatan yaitu program CWCC dan CWCCA. Penggunaan modern dressing yang tidak tepat akan berakibat merugikan pada penyembuhan luka, serta harganya yang memang diatas rata rata.

Melalui uraian singkat ini penulis berharap akan tumbuh kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang pencegahan luka, dan apa yang harus dilakukan jika sampai terjadi luka diabetes.

Tentang penulis:

Ns. Ahmad Hasyim W, M.Kep, MNg

  • Malang 1 Juli 1986
  • Dosen Jurusan Keperawatan Universitas Brawijaya
  • Owner rumah perawatan luka Pedis Care Malang
  • Trainer nasional pelatihan perawatan luka

 

Kontak: ahasyimw@gmail.com

085646333305

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *